Polri Garap ‘Living Laboratory’: Mencetak Polisi yang Humanis, Bukan Sekadar Penindak

KHABAR PUBLIK.COM — Menyitir kritik Goldstein (1979) mengenai Problem Oriented Policing, Irjen Susilo menekankan bahwa polisi tidak boleh terjebak dalam rutinitas reaktif. Di tengah pesatnya kemajuan teknologi dan penggerusan kearifan lokal, Polri membutuhkan model pemolisian yang prediktif dan adaptif.

“Polisi adalah ‘Ilmuwan Sosial’ yang berada dalam ruang masyarakat. Oleh karena itu, keberadaan Laboratorium Sosial menjadi kebutuhan mendesak agar tugas-tugas pemolisian didasari atas riset dan kajian akademis, bukan sekadar asumsi,” ujar Irjen Susilo.

Transformasi Lewat Riset dan Akademisi

Sebagai langkah konkret, Polri saat ini tengah membangun Laboratorium Sosial Kepolisian dan Pusat Studi Kepolisian. Institusi ini telah menjalin kolaborasi strategis dengan 74 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Swasta (PTS) di seluruh Indonesia melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU).

Laboratorium ini dirancang sebagai:

Deteksi Dini: Memetakan akar konflik sebelum kekerasan fisik pecah.

Problem Solver: Menemukan solusi humanis atas problematika sosial di masyarakat.

Living Laboratory: Ruang bagi calon polisi untuk merasakan langsung realitas sosial sehingga menumbuhkan empati dan simpati.

Wujudkan Democratic Policing

Keberadaan laboratorium ini bukan sekadar urusan teknis, melainkan implementasi dari konsep Democratic Policing. Dengan melibatkan para pemangku kepentingan (stakeholders), Polri diharapkan mampu mengakomodir kebutuhan masyarakat secara demokratis tanpa kehilangan taji dalam penegakan hukum.

“Laboratorium Sosial adalah jawaban untuk menyiapkan calon anggota polisi yang profesional. Kita ingin mereka memiliki kemampuan reflektif terhadap dinamika masyarakat, sehingga keteraturan sosial dapat terwujud dengan cara yang lebih bermartabat,” tutup jenderal bintang dua tersebut.

Oleh: Str’90
Editor: [Red]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *